Pada suatu waktu, saya terlibat obrolan dengan seorang sahabat mengenai Enterpreneurship yang kebetulan dia adalah enterpreneur juga.
Dia mengeluh karena banyak orang menganggap rendah karena kebetulan baru saja merintis usahanya. Orang melihat penampilannya yang bukan seperti orang yang bekerja di kantor tetapi seperti pengangguran.
Obrolan ini terjadi di serambi rumah saya. Sebelum saya menanggapi keluhan teman saya tersebut, saya meminta dia untuk melihat rumah besar di depan rumah saya. Saya katakan kepada dia bahwa pemilik rumah tersebut adalah seorang enterpreneur, beliau mensuplai gas-gas untuk pengelasan ke proyek-proyek. Melihat bentuk rumah dan kendaraan roda empat yang lebih dari satu, orang akan berfikir dia orang sukses dan respek padahal gayanya jauh sekali dari dandanan orang kantoran. Saya katakan kepada teman saya bahwa dulunya bapak itu belum sesukses sekarang ini, beliau bercerita bahwa untuk mengantar gas, dia harus turun naik bajaj. Untuk bisa terlihat seperti sekarang ini, semuanya ada proses. Kita tidak bisa menyalahkan opini orang lain yang melihat kita pada saat merintis usaha seperti melihat orang yang tidak bekerja. Apa yang kita rintis secara konsisten dan selalu berdo’a kepada Sang Pemilik rezeki, Insya Allah akan mencapai kesuksesan.
Hal ini tidak jauh berbeda yang seorang petani. Petani bersusah payah mencangkul dan membajak sawahnya dengan pakaian berlumuran lumpur, tetapi mereka sabar dan giat bekerja dengan satu keyakinan bahwa mereka akan memetik hasilnya.