Uncategorized


Menyebutkan sebuah tanggal merupakan hal yang sederhana, tetapi dalam berbahasa Inggris yang benar terkadang ini cukup membingungkan.
Mari kita membahasnya. Untuk menyebut angka dalam penanggalan kita tidak menggunakan penyebutan angka biasa seperti one, two, three dan seterusnya tetapi kita menggunakan first, second, third, dan seterusnya. Mungkin ini didasari suatu urutan bahwa pada penanggalan disebut hari ke-1 untuk tanggal 1, hari ke-19 untuk tanggal sembilan belas dan seterusnya.
Dalam penyebutan penanggalan ada 2 cara yaitu menyebutkan tanggal terlebih dahulu dan menyebutkan bulan terlebih dahulu. Sebagai contoh :
03 February = February the third atau the third of February
6 May = May the sixth atau the sixth of May

Ok, semoga bermanfaat…..

Sebagai pengguna jalan raya di ibukota jakarta, merupakan hal yang lumrah melihat pemandangan menerobos lampu merah bersama. Jika kita perhatikan, jumlah kendaraan roda dua yang banyak dapat menyerobot lampu merah bersama-sama dan kendaraan dari arah jalan yang sebenarnya lampu lalin-nya masih hijau-pun menjadi berhenti.
Ternyata dengan kebersamaan kita bisa…….menerobos lampu merah dan jalan duluan…..Tetapi tidak jarang kebersamaan menerobos lampu merah tersebut malah berakibat fatal dengan terjadi kecelakaan antar sesama penyerobot. Loh…kan bersama kita bisa…benar…..tetapi ternyata tetap harus ada yang memimpin, yang memberikan arahan dan mengatur kebersamaan itu. Bersama-sama bisa tapi kalau tidak ada pemimpin malah akan gontok-gontokan……

Beberapa tahun yang lalu, saya berdebat dengan seorang teman yang konon pernah belajar di negara kangguru. Dia mengatakan,”I am good in Maths“, saya bilang kalau good itu pasangannya at, tapi dia masih ngotot karena kalau diartikan Saya pandai dalam Matematika, toh dalam kan bahasa Inggrisnya in. Logika berbahasa Indonesia itu betul sekali, tapi kan kita menggunakan bahasa Inggris, bukan bahasa Indonesia.
Dalam bahasa Inggris ada yang dikenal dengan word partner atau pasangan kata dan jika diartikan langsung ke Bahasa Indonedia menjadi salah (common error in English).
Sama dengan suatu kalimat:”I am married with Lidya“, kalau diartikan ke Bahasa Indonesia, tidak ada yang salah dimana artinya “Saya menikah dengan Lidya”, tetapi sebenarnya pasangan married adalah to, jadi kalimat yang benar adalah “I am married to Lidya“.
Masih banyak lagi pasangan-pasangan kata seperti:
good/bad at, interested in, afraid of………..etc.
Dalam belajar bahasa Inggris terkadang kita tidak bisa langsung menterjemahkan menjadi bahasa Indonesia.

Pada suatu waktu, saya terlibat obrolan dengan seorang sahabat mengenai Enterpreneurship yang kebetulan dia adalah enterpreneur juga.
Dia mengeluh karena banyak orang menganggap rendah karena kebetulan baru saja merintis usahanya. Orang melihat penampilannya yang bukan seperti orang yang bekerja di kantor tetapi seperti pengangguran.
Obrolan ini terjadi di serambi rumah saya. Sebelum saya menanggapi keluhan teman saya tersebut, saya meminta dia untuk melihat rumah besar di depan rumah saya. Saya katakan kepada dia bahwa pemilik rumah tersebut adalah seorang enterpreneur, beliau mensuplai gas-gas untuk pengelasan ke proyek-proyek. Melihat bentuk rumah dan kendaraan roda empat yang lebih dari satu, orang akan berfikir dia orang sukses dan respek padahal gayanya jauh sekali dari dandanan orang kantoran. Saya katakan kepada teman saya bahwa dulunya bapak itu belum sesukses sekarang ini, beliau bercerita bahwa untuk mengantar gas, dia harus turun naik bajaj. Untuk bisa terlihat seperti sekarang ini, semuanya ada proses. Kita tidak bisa menyalahkan opini orang lain yang melihat kita pada saat merintis usaha seperti melihat orang yang tidak bekerja. Apa yang kita rintis secara konsisten dan selalu berdo’a kepada Sang Pemilik rezeki, Insya Allah akan mencapai kesuksesan.
Hal ini tidak jauh berbeda yang seorang petani. Petani bersusah payah mencangkul dan membajak sawahnya dengan pakaian berlumuran lumpur, tetapi mereka sabar dan giat bekerja dengan satu keyakinan bahwa mereka akan memetik hasilnya.

Kemarin saya baru saja memberikan pelatihan bulanan guru-guru di lembaga kami. Materi-materi yang diberikan lebih kepada soft skills dari seorang guru dan Alhamdulillah mereka cukup terbawa emosi yang positif selama pelatihan tersebut.
Beberapa materi yang diberikan adalah diantaranya Role of Teacher (Peran seorang Guru). Materi tersebut memang adalah materi wajib kami bagi para guru dan akan selalu diulang-ulang. Peran seorang guru adalah
1. Moderator
2. Counsellor
3. Advisor
4. Manager
5. Police
6. Parents
7. Guide
8. Censor
Pada pelatihan juga disinggung apakah kita ingin menjadi guru yang baik yang selalu mengikuti keinginan siswanya atau menjadi menjadi guru yang ideal yaitu mengetahui bagaimana kebutuhan siswanya dan menangani permasalahan siswanya.
Pada pelatihan juga diputarkan sebuah film inspirasi mengenai seorang guru yang merasa telah menjadi seorang guru yang baik tetapi pada saat dia menemukan salah seorang muridnya yang bermasalah, dia merasa bahwa sebenarnya dia tidak tahu bagaimana mengajar dan akhirnya dia belajar dari muridnya tersebut sehingga sang murid berhasil. Para guru yang menonton film tersebut merasa diobok-obok emosinya sehingga tak kuasa untuk meneteskan air mata dan kita menjadi merasa bahwa masih banyak yang harus dipelajari sebagai seorang guru. Menjadi seorang guru itu gampang tetapi menjadi seorang guru yang ideal, yang benar-benar memahami para siswanya, itu yang sulit….tapi sulit bukan berarti tidak bisa dilakukan…..
Kemampuan soft skills dari seorang guru sangat penting dimiliki selain tentu saja kemampuan hard skills-nya. Kemampuan soft skill seorang guru diantaranya kemampuan untuk mengatasi permasalahan siswa baik yang menyangkut pelajaran maupun diluar itu, pengetahuan tentang psikologi perkembangan anak, pengetahuan tentang bagaimana seorang anak itu belajar dan yang lainnya……
Dengan kita memiliki kemampuan soft skills yang baik diharapkan akan mempermudah kita dalam mengajar dan dapat mengoptimalkan materi yang dapat diserap oleh para siswa kita……..

“Ada murid yang tidak bisa diatur??? Masukkan saja ke kelas saya!!!!!Gak ada murid yang gak bisa saya tangani!!!!!”, itulah sekelumit sesumbar dari seorang guru di suatu sekolah pre-school yang mencantumkan embel-embel Montessori. Memang kelas itu menjadi hening dan mencekam.
Di lain waktu dengan guru yang sama, didepannya ada seorang anak yang menangis meraung-raung dan bergulingan, tetapi seperti tidak terjadi apapun sang guru pun “cuek bebek”……
Dr.Maria Montessori jika masih hidup dan melihat hal ini, tentu dia akan sangat sedih…..karena saya yakin metode montessori yang diajarkan beliau bukan seperti itu……
Jangankan Dr.Montessori, teman saya selaku praktisi pendidikan yang berkecimpung di dunia anak-anak, rasanya sangat geram mendengar hal tersebut. Terlintas dalam fikiran teman saya….kok bisa ya orang seperti itu menjadi seorang guru, apalagi untuk anak-anak karena pada usia itu adalah golden age, diharapkan anak mendapatkan asupan yang positif bukan yang kasar dan bernilai negatif.
Bagaimana sih disiplin dalam sekolah berbasis Montessori? Teman saya mengutip bahwa “The children do not think of their teachers as being strict or mean. Techniques of force or power are not used.” “Anak-anak tidak akan berfikir bahwa guru mereka galak atau kejam. Cara-cara yang menunjukkan kekuasaan tidak digunakan.”
Dia juga mengutip hal yang berkaitan dengan guru tentang perbedaan sekolah berbasis Montessori dengan yang lainnya,“Montessori teachers are trained to teach respect and positive values through their modeling as well as through the way they teach.” “Para guru Montessori terlatih untuk mengajar dengan memberikan perhatian dan nilai-nilai postif dengan memberikan contoh-contoh yang berkenaan dengan hal itu disaat mereka mengajar”.
Menurut Anda apakah perilaku guru diatas pantas mengajar di Montessori? Atau sang sekolah tidak memahami esensi dari pembelajaran montessori sehingga sehingga tetap mempertahankan dan tidak menegur guru tersebut? Bagaimana efeknya bagi perkembangan psikologi anak jika dari usia dini belajar mereka sudah dibentak-bentak dan kurang dikasihi????
Anda sendiri yang bisa menjawabnya…….

Yakin…..

Kata yang sering sekali kita dengar.

Seorang guru tidak akan dapat mengajar dengan baik jika tidak YAKIN bahwa materi yang diajarkannya memang berguna dan bermanfaat bagi siswanya atau bahkan dia tidak YAKIN bahwa dia menguasai materi tersebut.

Seorang marketing tidak akan bisa menjual dengan baik jika tidak YAKIN akan produk yang ditawarkannya.

Seorang penganut agama tidak akan dapat melaksanakan pedoman keagamaannya dengan baik jika ia tidak YAKIN akan kebenaran agama yang dianutnya.

Seorang pemimpin tidak akan diikuti oleh pengikutnya jika ia tidak bisa menunjukkan keyakinan akan hal yang menjadi tujuan dari organisasinya.

So…pelajari, pahami, yakin dan lakukanlah tapi jangan lupa untuk selalu berdo’a……..

Next Page »