Yakin…..

Kata yang sering sekali kita dengar.

Seorang guru tidak akan dapat mengajar dengan baik jika tidak YAKIN bahwa materi yang diajarkannya memang berguna dan bermanfaat bagi siswanya atau bahkan dia tidak YAKIN bahwa dia menguasai materi tersebut.

Seorang marketing tidak akan bisa menjual dengan baik jika tidak YAKIN akan produk yang ditawarkannya.

Seorang penganut agama tidak akan dapat melaksanakan pedoman keagamaannya dengan baik jika ia tidak YAKIN akan kebenaran agama yang dianutnya.

Seorang pemimpin tidak akan diikuti oleh pengikutnya jika ia tidak bisa menunjukkan keyakinan akan hal yang menjadi tujuan dari organisasinya.

So…pelajari, pahami, yakin dan lakukanlah tapi jangan lupa untuk selalu berdo’a……..

Suatu waktu dulu, salah seorang orang tua siswa kami bercerita kalau anaknya di yang duduk di bangku TK dimarahi dan di suruh berdiri di depan kelas karena tidak mau menulis dan membaca.

Mendengar hal ini, saya cukup berang…yang terfikir oleh saya bahwa apakah sang guru tersebut yang sehari-harinya mengajar anak-anak paham dengan dunia anak?…paham dengan psikologi perkembangan anak?  Apakah dia tahu kalau usia anak-anak itu usia bermain sambil belajar?  Kalaupun mengajar anak-anak baca tulis yang semestinya tidak dianjurkan diajarkan pada usia TK, tetap tidak meninggalkan unsur bemain dan menyenangkan????  Guru oh guru……

“Tenses dalam bahasa Inggris ada berapa hayoo?”, tanya seorang pengajar bahasa Inggris. “Ada 12″….”Ada 8″…”Ada 16″….. Yang bener ada berapa ya?  Dari banyak sumber mengatakan ada 16 tenses.  Masih ingat waktu kita sekolah dulu bagaimana menghafal tenses? Yup…..kita diminta menghafal rumus atau kerennya structure.  Terus kalo 1 unsur aja lupa bisa kacau dong…..

Ada 3 hal yang menurut versi saya  bagaimana kita mengetahui rumus tenses dari suatu kalimat, yang perlu diketahui:

1.  Jenis kata kerja itu ada 3, biasanya Verb 1 disebut Infinitive, Verb 2 disebut Past Simple, Verb 3 disebut Past Participle.  Mari kita bikin ringkas bahwa Verb 1 biasa dipakai oleh tenses PRESENT, Verb 2 biasa dipakai oleh tenses PAST dan Verb 3 biasa dipakai oleh tenses PERFECT.

2.  Kita juga mengetahui bahwa keluarga Continuous diikuti oleh bentuk bare infinitive (V1)+ing dan sebelumnya ada to be (is, am, are, was, were, been).

3.  Kita juga mengetahui bahwa keluarga Perfect itu diikuti oleh Have, has dan had dimana have/has untuk bentuk present dan had untuk bentuk past.

Dengan mengetahui 3 hal diatas Insya Allah bisa tau kalimat itu tensesnya apa.  Kita coba yuk:

She had been living here ………………….

Yang perlu kita ketahui bahwa kunci tenses adalah KATA KERJA (VERB), dari kalimat diatas, verb-nya adalah living.

Kita mulai dari sana, kata living adalah masuk keluarga CONTINUOUS, untuk continuous kita tahu diikuti oleh to be, so kita lihat sebelumnya……ternyata to be -nya adalah been, kita ketahui bahwa been adalah to be bentuk kata kerja ke-3 dimana V3 adalah PERFECT, selanjutnya kita juga telah mengetahui bahwa keluarga perfect diikuti oleh kata bantu have, has atau had, jika kita lihat kata sebelumnya adalah had, jadi diambil kesimpulan bahwa Perfect-nya adalah dalam bentuk PAST.

Dapat deh tensesnya, yaitu PAST PERFECT CONTINUOUS.  Selamat mencoba….

1. Accuracy-or-fluency
2. Grammar….malas ah

Alhamdulillah, begitu saya mendengar istri-ku tercinta hamil lagi.

Alhamdulillah, Allah kembali mempercayakan kami untuk menjaga titipan-Nya.

Insya Allah anak akan membukakan pintu rejeki juga untuk orang tuanya…..Amin.

Pertemuan dengan APIQ sepertinya memang sudah diatur.  Awalnya saya bernafsu untuk menjalin kerjasama dengan salah satu kursus yang mengajarkan salah satu alat berhitung aritmetika untuk saya pakai di lokasi Pondok Gede dan Cipinang Muara, tetapi apa mau dikata, yang di Pondok Gede tidak lulus survey karena lokasi kurang dari 3 km dari lokasi mereka yg sudah ada sampai saya survey sendiri ke lokasi mereka yg sudah ada dan sampai saat ini saya belum bertemu karena agak masuk gang, katanya…. Di Cipinang Muara, saya coba merangkul lokasi mereka yg lokasinya tidak jauh dari lokasi kami, karena saya ingin bersinergi dan disamping itu jumlah siswa kita, maaf bukan mau sombong, hampir 10 x siswa mereka, setelah mereka hitung dan memang jauh menguntungkan bagi mereka, tetapi mereka bilang tidak perlu kerjasama karena mereka masih mampu kok untuk sendiri.  Sedikit kesal saat itu, lalu saya turunkan titah (he..he..he) kepada staf saya untuk cari kerjasama kursus Matematika, sekali lagi KURSUS MATEMATIKA, bukan alat bantu untuk menghitung salah satu bagian dari Matematika.  Besoknya pagi staf saya laporan kalau dia sudah menemukan APIQ.

Untuk bertemu dengan Penemu APIQ, Bp.Ir.Agus Nggermanto ternyata tidak mudah dan saya dijadwalkan agak terlalu lama.  Karena sudah ngebet mau bertemu dengan Founder APIQ, tim saya pun berangkat ke Bandung, jemput bola.  Disana kami bertemu dengan keluarga besar APIQ dan calon Master APIQ, Pak Unang dan keluarga.  Ternyata pertemuan di Bandung berlanjut dan Pak Unang meminang kita untuk menjadi Master APIQ, bersama-sama mengembangkan APIQ.

Alhamdulillah, dalam jangka waktu kurang dari 3 bulan, kami sudah membukakan 4 cabang APIQ di Jakarta.  Bagi kami, APIQ dengan sistem pengajaran yang sangat baik, ide yang brilliant (pinjam kata-kata staf saya), Insya Allah akan cepat berkembang….

Mana yang lebih penting dan didahulukan ya dalam bahasa Inggris???  Accuracy atau Fluency?  Apa sih accuracy itu?  Kata orang seh, accuracy itu ketepatan berbicara, tepat dalam grammar-nya, tepat juga dalam pemilihan katanya.  Kalau Fluency?  Fluency kata orang juga seh, bagaimana kita dapat terus berbicara dalam bahasa Inggris dan kita masih selalu mendapatkan ide untuk berbicara dalam jangka waktu tertentu.

Pada saat di sekolah dulu, para guru bahasa Inggris tercinta kita lebih banyak menekankan kepada accuracy, alasannya kan untuk persiapan ujian.  Nggak heran kalo banyak yang dapat nilai bagus bahasa Inggris tapi kalo disuruh bicara bahasa Inggris gelagapan.

Saya pernah memiliki seorang siswa yang sudah cukup umur, karena anak2nya yang sudah SMA-pun belajar dengan kami, anggaplah namanya Pak Paul.  Pak Paul seorang pendeta dan pernah dikirim ke Hawaii selama 3 bulan untuk studi banding di sana.  Pada saat itu saya berfikir kalau dia belajar ingin melncarkan bahasa Inggrisnya, jadi saya sarankan dia untuk ambil kelas conversation.  Dia langsung menolak, dia bilang untuk sekedar bicara dia sudah biasa (fluency) tapi dia ragu apakah bahasa Inggris-nya sudah benar jadi dia minta kelas reguler dimana disana lebih dititik beratkan pada grammar.

Darisana saya berfikir bahwa untuk belajar bahasa Inggris butuh keberanian, dengan keberanian kita bisa melakukan percakapan bahasa Inggris (fluency) pada saat merasa lancar berbahasa Inggris kita akan tersadar bahwa bahasa Inggris kita ada yg tidak benar terus dilanjutkan deh untuk perbaikan grammar-nya (accuracy).

Ada pendapat?

“Belajar Grammar dalam bahasa Inggris???  Malas ah…lagian kalo kita ngomong bahasa Inggris kan yang penting bisa nyambung……”, kata seorang teman.

Tapi apakah benar grammar tidak perlu???  Salah satu guru favorite saya pernah bilang,”Suka tidak suka kita harus belajar grammar karena grammar can show how educated you are.”  Jika kita telaah lebih jauh lagi benar juga karena tanpa grammar bagaimana kita menggunakan Bahasa Inggris dengan baik dan benar?  Salah satu bagian grammar yaitu Tenses merupakan indikator yang menunjukkan waktu kejadian suatu percakapan.  Nah…bisa berabe kan jika salah mengartikan?

Biar gak malas bagaimana sih belajar Grammar yang menyenangkan?  Nanti kita bahas satu persatu ya…….