Sebagai pengguna jalan raya di ibukota jakarta, merupakan hal yang lumrah melihat pemandangan menerobos lampu merah bersama. Jika kita perhatikan, jumlah kendaraan roda dua yang banyak dapat menyerobot lampu merah bersama-sama dan kendaraan dari arah jalan yang sebenarnya lampu lalin-nya masih hijau-pun menjadi berhenti.
Ternyata dengan kebersamaan kita bisa…….menerobos lampu merah dan jalan duluan…..Tetapi tidak jarang kebersamaan menerobos lampu merah tersebut malah berakibat fatal dengan terjadi kecelakaan antar sesama penyerobot. Loh…kan bersama kita bisa…benar…..tetapi ternyata tetap harus ada yang memimpin, yang memberikan arahan dan mengatur kebersamaan itu. Bersama-sama bisa tapi kalau tidak ada pemimpin malah akan gontok-gontokan……

Pada suatu waktu, saya terlibat obrolan dengan seorang sahabat mengenai Enterpreneurship yang kebetulan dia adalah enterpreneur juga.
Dia mengeluh karena banyak orang menganggap rendah karena kebetulan baru saja merintis usahanya. Orang melihat penampilannya yang bukan seperti orang yang bekerja di kantor tetapi seperti pengangguran.
Obrolan ini terjadi di serambi rumah saya. Sebelum saya menanggapi keluhan teman saya tersebut, saya meminta dia untuk melihat rumah besar di depan rumah saya. Saya katakan kepada dia bahwa pemilik rumah tersebut adalah seorang enterpreneur, beliau mensuplai gas-gas untuk pengelasan ke proyek-proyek. Melihat bentuk rumah dan kendaraan roda empat yang lebih dari satu, orang akan berfikir dia orang sukses dan respek padahal gayanya jauh sekali dari dandanan orang kantoran. Saya katakan kepada teman saya bahwa dulunya bapak itu belum sesukses sekarang ini, beliau bercerita bahwa untuk mengantar gas, dia harus turun naik bajaj. Untuk bisa terlihat seperti sekarang ini, semuanya ada proses. Kita tidak bisa menyalahkan opini orang lain yang melihat kita pada saat merintis usaha seperti melihat orang yang tidak bekerja. Apa yang kita rintis secara konsisten dan selalu berdo’a kepada Sang Pemilik rezeki, Insya Allah akan mencapai kesuksesan.
Hal ini tidak jauh berbeda yang seorang petani. Petani bersusah payah mencangkul dan membajak sawahnya dengan pakaian berlumuran lumpur, tetapi mereka sabar dan giat bekerja dengan satu keyakinan bahwa mereka akan memetik hasilnya.

Kompetensi utama kecerdasan emosi yang membuat seseorang memiliki kepribadian yang utuh adalah sebagai berikut:
(1) Kesadaran-diri emosional: seberapa jauh Anda mampu mengenali perasaan sendiri.
(2) Ekspresi emosional: kemampuan mengekspresikan perasaan dan naluri.
(3) Kesadaran akan emosi orang lain: kemampuan mendengarkan, merasakan atau mengintuisikan perasaan orang lain dari kata, bahasa tubuh, maupun petunjuk lain.
(4) Kreativitas: berhubungan dengan berbagai sumberdaya non-kogntif yang dapat membantu menelurkan ide baru, menemukan solusi alternatif dan cara efektif melakukan sesuatu.
(5) Kegigihan/fleksibilitas/adaptabilitas: ulet dan tetap berhasrat serta berharap walaupun ada halangan.
(6) Hubungan antarpribadi: menciptakan dan mempertahankan jejaring dengan orang-orang yang bersamanya Anda menjadi realitas yang utuh.
(7) Ketidakpuasan konstruktif: kemampuan tetap tenang dan fokus dengan emosi yang tidak meningkat sekalipun dalam perselisihan.
(8) Wawasan/ Optimisme: positif dan optimistik.
(9) Belas kasihan/ empati: kemampuan berempati dan menghargai perasaan orang lain.
(10) Intuisi: kemampuan mengenali, mempercayai, dan menggunakan perasaan kuat yang muncul dari dalam, serta respons kognitif lain yang dihasilkan oleh indera, emosi, pikiran, dan tubuh.
(11) Kesengajaan: mengatakan apa maksud Anda dan tekad untuk melaksanakan apa yang Anda katakan; bersedia tahan terhadap gangguan dan godaan agar dapat
bertanggung jawab atas segala tindakan dan sikap.
(12) Radius kepercayaan: mempercayai bahwa seseorang itu “baik” sampai terbukti sebaliknya; namun, tidak juga terlalu mempercayai seseorang.
(13) Kekuatan pribadi: yakin dapat menghadapi segala tantangan dan hidup sesuai dengan pilihan.