Kemarin saya baru saja memberikan pelatihan bulanan guru-guru di lembaga kami. Materi-materi yang diberikan lebih kepada soft skills dari seorang guru dan Alhamdulillah mereka cukup terbawa emosi yang positif selama pelatihan tersebut.
Beberapa materi yang diberikan adalah diantaranya Role of Teacher (Peran seorang Guru). Materi tersebut memang adalah materi wajib kami bagi para guru dan akan selalu diulang-ulang. Peran seorang guru adalah
1. Moderator
2. Counsellor
3. Advisor
4. Manager
5. Police
6. Parents
7. Guide
8. Censor
Pada pelatihan juga disinggung apakah kita ingin menjadi guru yang baik yang selalu mengikuti keinginan siswanya atau menjadi menjadi guru yang ideal yaitu mengetahui bagaimana kebutuhan siswanya dan menangani permasalahan siswanya.
Pada pelatihan juga diputarkan sebuah film inspirasi mengenai seorang guru yang merasa telah menjadi seorang guru yang baik tetapi pada saat dia menemukan salah seorang muridnya yang bermasalah, dia merasa bahwa sebenarnya dia tidak tahu bagaimana mengajar dan akhirnya dia belajar dari muridnya tersebut sehingga sang murid berhasil. Para guru yang menonton film tersebut merasa diobok-obok emosinya sehingga tak kuasa untuk meneteskan air mata dan kita menjadi merasa bahwa masih banyak yang harus dipelajari sebagai seorang guru. Menjadi seorang guru itu gampang tetapi menjadi seorang guru yang ideal, yang benar-benar memahami para siswanya, itu yang sulit….tapi sulit bukan berarti tidak bisa dilakukan…..
Kemampuan soft skills dari seorang guru sangat penting dimiliki selain tentu saja kemampuan hard skills-nya. Kemampuan soft skill seorang guru diantaranya kemampuan untuk mengatasi permasalahan siswa baik yang menyangkut pelajaran maupun diluar itu, pengetahuan tentang psikologi perkembangan anak, pengetahuan tentang bagaimana seorang anak itu belajar dan yang lainnya……
Dengan kita memiliki kemampuan soft skills yang baik diharapkan akan mempermudah kita dalam mengajar dan dapat mengoptimalkan materi yang dapat diserap oleh para siswa kita……..

Advertisements

“Ada murid yang tidak bisa diatur??? Masukkan saja ke kelas saya!!!!!Gak ada murid yang gak bisa saya tangani!!!!!”, itulah sekelumit sesumbar dari seorang guru di suatu sekolah pre-school yang mencantumkan embel-embel Montessori. Memang kelas itu menjadi hening dan mencekam.
Di lain waktu dengan guru yang sama, didepannya ada seorang anak yang menangis meraung-raung dan bergulingan, tetapi seperti tidak terjadi apapun sang guru pun “cuek bebek”……
Dr.Maria Montessori jika masih hidup dan melihat hal ini, tentu dia akan sangat sedih…..karena saya yakin metode montessori yang diajarkan beliau bukan seperti itu……
Jangankan Dr.Montessori, teman saya selaku praktisi pendidikan yang berkecimpung di dunia anak-anak, rasanya sangat geram mendengar hal tersebut. Terlintas dalam fikiran teman saya….kok bisa ya orang seperti itu menjadi seorang guru, apalagi untuk anak-anak karena pada usia itu adalah golden age, diharapkan anak mendapatkan asupan yang positif bukan yang kasar dan bernilai negatif.
Bagaimana sih disiplin dalam sekolah berbasis Montessori? Teman saya mengutip bahwa “The children do not think of their teachers as being strict or mean. Techniques of force or power are not used.” “Anak-anak tidak akan berfikir bahwa guru mereka galak atau kejam. Cara-cara yang menunjukkan kekuasaan tidak digunakan.”
Dia juga mengutip hal yang berkaitan dengan guru tentang perbedaan sekolah berbasis Montessori dengan yang lainnya,“Montessori teachers are trained to teach respect and positive values through their modeling as well as through the way they teach.” “Para guru Montessori terlatih untuk mengajar dengan memberikan perhatian dan nilai-nilai postif dengan memberikan contoh-contoh yang berkenaan dengan hal itu disaat mereka mengajar”.
Menurut Anda apakah perilaku guru diatas pantas mengajar di Montessori? Atau sang sekolah tidak memahami esensi dari pembelajaran montessori sehingga sehingga tetap mempertahankan dan tidak menegur guru tersebut? Bagaimana efeknya bagi perkembangan psikologi anak jika dari usia dini belajar mereka sudah dibentak-bentak dan kurang dikasihi????
Anda sendiri yang bisa menjawabnya…….

Suatu waktu dulu, salah seorang orang tua siswa kami bercerita kalau anaknya di yang duduk di bangku TK dimarahi dan di suruh berdiri di depan kelas karena tidak mau menulis dan membaca.

Mendengar hal ini, saya cukup berang…yang terfikir oleh saya bahwa apakah sang guru tersebut yang sehari-harinya mengajar anak-anak paham dengan dunia anak?…paham dengan psikologi perkembangan anak?  Apakah dia tahu kalau usia anak-anak itu usia bermain sambil belajar?  Kalaupun mengajar anak-anak baca tulis yang semestinya tidak dianjurkan diajarkan pada usia TK, tetap tidak meninggalkan unsur bemain dan menyenangkan????  Guru oh guru……